The Hardest Ramadhan Ever

Bulan puasa kali ini sepertinya yg paling berat rasanya selama hidupku. Hidup jauh dari rumah dan harus merasakan sahur dan berbuka dirumah orang lain sama sekali tidak menyenangkan. Ego betul-betul diredam. Yang tadinya kalau menu sahur dan berbuka itu gampang diatur dengan orang rumah, kalau disana so pasti ikutan orang rumah sana masaknya apa. Secara kita ini cuma numpang. Belum lagi keinginan kita saat sahur, berbuka, shalat tarwih itu maunya bersama keluarga, akhirnya dijalani sendiri. Dan mungkin saking shocknya perasaan berdampak pada fisik. Pada hari kedua puasa yang biasanya kita lagi kuat-kuatnya, saya malah drop. Pekerjaan tak henti-hentinya yang tidak sebanding dengan kondisi fisik, membuat body n perasaan jadi tdk keruan. Demam bikin emosi menjadi-jadi, bahkan sampe rumah sempat nangis tapi langsung menguatkan hati kalau sekarang lagi puasa. Namanya juga bulannya ujian. Ibaratnya kalau kita ingin naik kelas,ya harus ujian dulu. Mungkin dalam setiap berlalunya tahun dalam hidup kita, Allah SWT ingin menguji kita. Bukan namanya orang yang bertakwa kalau tidak diuji oleh Allah SWT. Hal-hal yang dihalalkan saja menjadi haram disiang hari, apalagi yang haram. Saya cuma ingin menyemangati teman-teman di bulan puasa ini. Cobaan ini mungkin bukan apa-apa dibandingkan cobaan teman-teman yang lain. Semoga kita semua bisa melalui Ramadhan kali ini dengan lebih mensyukuri nikmat yang ada dan tetap semangat. Semoga kita semua bisa menadi fitrah kembali dihari yang fitri nanti.

Amin Ya Rabbal Alamien…

No comment »

Another 17an Story

Seingatku terakhir ikut upacara 17an itu waktu masih jaman sma dulu. Mungkin skitar 8thn yang lalu. Dan seingatku gak ada sekali niatan dalam diri untuk ikut khidmat dalam upacara bendera seperti ini. Sangat jelas akan minimnya nasionalisme dikalangan remaja ya…Soalnya sangat tidak logis harus melakukan penghormatan selama sekitar 5mnt kepada suatu benda mati yang berkibar oleh terpaan angin walaupun maknanya mungkin sangat besar bagi bangsa kita. Yang ada di pikiran hanya bagaimana berada dibarisan paling belakang agar tidak terkena sinar matahari dan bisa bergaya bebas(maksudnya tidak dalam posisi siap oleh inspektur upacara)…he3. Dan tidak pernah terbayang akan mengikuti hal semacam ini lg dimasa yg akan datang. Nyatanya pada saat kerja kita jg diharuskan untuk ikut upacara spt ini. Padahal di kantor sebelumnya tidak pernah ada sejarahnya dilakukan hal spt ini padahal sama2 perusahaan swasta.

Terus terang pemikiranku masih sama dengan 8tahun yang lalu soal upacara ini. Bahkan berniat untuk tidak ikut. Setelah briefing pagi hari itu, yang menginformasikan akan wajibnya upacara kali ini dengan ancaman absensi akan dikirim ke kantor pusat, mau tidak mau harus datang. Sepatah kata dari pimpinan juga sedikit menginspirasi kita untuk datang. Beliau mengatakan, kita disuruh upacara saja susah. Padahal jaman dulu orang harus berjuang sampe mati hanya untuk mengibarkan bendera. Jadi sedikit terobati penyakit kemalasannya untuk upacara. Yang bikin malesnya karena tgl17 itu bertepatan dengan hari minggu. Padahal hari jumatnya baru pulang ke makassar. Baru istirahat sehari harus balik lagi kesana. Tapi karena mikir cuma 2jam perjalanan dan paling lama hanya 30mnt upacaranya jadi berbesar hatilah kami kesana.

Pada tgl 17nya, setelah shalat subuh langsung berangkat tanpa ada babibu. Dengan mata masih berat dan hati masih tdk karuan akhirnya setengah perjalanan sudah terlewati. Sekitar 40mnt lagi sampai ditujuan, ternyata hujan turun dengan derasnya. Kami bukannya sedih malah senang mengingat kemungkinan besar upacara tidak jadi. Tapi rasanya perjalanan jadi sia-sia jauh2 hanya untuk upacara tapi kalau hujan otomatis upacara menjadi tidak wajib. Sampai dikantor ternyata hujan mereda. Para petugas upacara sedang bersiap-siap dengan tugasnya masing-masing. Kami para karyawan juga akan menyiapkan diri di barisan masing-masing juga. Inspektur upacara sudah mengistirahatkan peserta upacara. Pasukan penggerek bendera sedang latihan baris berbaris menuju tiang bendera. Belum juga upacara mulai ternyata hujan turun dengan derasnya. Barisan peserta upacara tanpa instruksi langsung kocar-kacir mencari tempat berteduh. Dengan sabar kami menunggu redanya hujan tapi dengan harapan upacaranya hanya dilanjutkan oleh penggerek bendera saja. Tapi 30mnt kemudian hujan mereda. Kami diinstruksikan untuk kembali ke barisan. Dan upacara pun dimulai. Dibandingkan dengan 8thn lalu diSma, upacara kali ini cukup khidmat. Nyanyian lagu Indonesia Raya dan Hening Cipta diiringi dengan rintik hujan dan angin dingin di pagi hari cukup membuat bulu kuduk merinding. Setelah pidato dari pimpinan dan doa selesai dibacakan, akhirnya upacara selesai.

Upacaranya hanya memakan waktu sekitar 45mnt. Ternyata tidak seberat yang dibayangkan sebelumnya. Seandainya kita mau meluangkan sedikit saja waktu kita untuk menghormati jasa para pahlawan kita dahulu, saya rasa itu tidak sulit untuk dilakukan.

No comment »

Jepon Culture

Sejak tinggal di bumi butta turatea walaupun hanya 5hari
4malam dalam seminggu, cukup banyak kebiasaan masyarakat setempat yang bisa
ditangkap. Seperti misalnya kebiasaan mereka untuk mengiyakan permintaan
seseorang dengan kata iye’ karaeng. Padahal menurut kami pendatang kata karaeng
ini sangat tinggi tingkatannya dan hanya disebutkan untuk kalangan bangsawan
saja. Tapi di jeneponto tidak seperti itu. Bahkan kita saja yang notabene bukan
penduduk asli, yang hanya naik becak ke kantor, juga dipanggil
seperti itu. “Deng, ke jalan pahlawan nah,2ribu mo” dan langsung dijawab ‘iye’
karaeng’. Awalnya kata-kata ini sangat aneh ditelinga kami soalnya kami
bangsawan juga bukan, apalagi suku kami bugis, kenapa bisa dipanggil karaeng?.Didaerah bugis saja, hanya orang-orang tertentu yang dipanggil puang, itupun
hanya kalangan bangsawan saja. Tapi setelah mengetahui kalau itu hanya adat mereka
untuk menghormati orang lain,akhirnya kami terbiasa juga, bahkan menggunakannya
pula dalam keseharian, tentu saja dengan alasan yang sama, untuk menghormati
orang di daerah tersebut.

Ada lagi satu adat
yang sangat aneh menurut saya, dan sepertinya tidak patut untuk dibawa dalam
keseharian kita. Kalau tadi adat menghormati orang lain, yang ini sebaliknya. Dalam
keluarga yang kami tumpangi untuk tinggal selama kurang lebih 3 bulan terakhir
ini, anaknya memanggil orang tua mereka dengan sebutan pa’daengannya. Dengan santainya
dia memanggil ibunya dengan sebutan daengnya, bukan dengan panggilan seorang
anak kepada ibunya, mama, ma, bu, mak, tapi daeng. Belum lagi cara memanggilnya dengan teriakan yang tidak mungkin tetangga tidak mendengar,
apalagi kami yang berada didalam rumah. Bukan kebiasaan yang bagus untuk
diikuti. Sangat tidak pantas rasanya
seorang anak berlaku seperti itu kepada ibunya.  Tapi memang seperti itulah kebiasaan mereka. Bahkan
ibunya juga pasrah saja dipanggil seperti itu. Sedih sekali rasanya melihat
anaknya berlaku seperti itu. Apalagi dia anak satu-satunya di keluarga
tersebut. Sepertinya tidak ada kesopanan yang berlaku dalam rumah. Hal ini juga
berlaku untuk panggilan kepada bapaknya. Sangat aneh menurut saya. Dan untuk keponakan, mereka memanggil bukan dengan tante, tapi langsung nama pa’daengangnya,
tanpa embel2 daeng. Misalnya namanya daeng kebo, ponakannya hanya memanggil kebo
saja, tanpa daeng. Aneh bukan?. 

Tapi  memang seperti
itulah kebiasaan atau mungkin lebih tepatnya budaya mereka. Tidak mungkin
dirubah begitu saja dengan adanya pendatang yang dalam seminggu hanya 4malam
tinggal disana. Kebiasaan yang baik mungkin bisa diikuti tapi kalau jelek ya
ngapain juga diterapkan dalam kehidupan
kita? Untuk orang asli sana yang
kebetulan membaca ini sebelumnya saya minta maaf jika ada yang merasa
tersinggung. Bukan maksud saya untuk mendiskreditkan budaya disana, hanya
sebagai bahan informasi bagi teman-teman saja. Semoga bermanfaat….hehehe

Comments (1) »

THE STORY LATELY

Senin subuh setelah azan berkumandang dengan lantangnya membangunkan umat manusia untuk menjalankan kewajibannya di awal hari, saya sudah siap dengan tas penuh barang untuk kebutuhan 5hari kerja kedepan untuk menjalankan aktivitas di butta turatea (hahaha…asiknya namanya die?!). setelah selesai shalat subuh dan berkomat-kamit berdoa memohon keselamatan agar sampai di tujuan, tas pun dinaikkan ke kendaraan dimana kedua orang tua sudah siap mengantar bahkan sebelum saya selesai shalat. Jalanan masih sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas disekitar jalan pettarani. Ketika berbelok ke alauddin, hanya ada satu dua orang pagandeng yang lewat dengan motor dan sepeda yang penuh barang. Sekitar  300m di depan kendaraan kami ada pengendara sepeda motor yang sedang berboncengan terlihat sangat oleng. Kami mencurigai kedua remaja ini sedang ”melayang”. Ketika mereka hendak berbelok ke kanan, mereka sepertinya tidak melihat ada pagandeng yang melintas dari arah yang berlawanan, dan pagandeng tersebut dengan barang bawaan yang dibawanya tidak dapat menjaga keseimbangannya sehingga tidak sanggup menghindari kedua remaja yang berboncengan ini sehingga terjadilah kecelakaan. Barang2 pagandeng berhamburan dijalanan dan kedua remaja tersebut terpental dari motornya dan bergabung dengan hamburan barang-barang pagandeng tersebut sedangkan pagandeng tersebut terguling bersama dengan motornya. Sungguh bukanlah suatu peristiwa yang layak disaksikan untuk orang yang ingin melakukan perjalanan keluar kota. Seketika itu juga ibu saya seakan tidak rela untuk melepaskan saya pergi bekerja, rutinitas yang sudah 3minggu ini dilakukan. Akhirnya setelah sampai diterminal dan mendapatkan mobil sewa, saya berangkat juga dengan tidak henti2nya berdoa memohon ampunan sekiranya ajal saya memang hanya sampai diperjalanan 90km keluar dari makassar. Namun setelah mobil sewa ini meluncur dengan kecepatan rata2 diatas 100km/jam dan akhirnya bisa tertidur pada saat setengah perjalanan, akhirnya saya sampai juga ditujuan dengan 30mnt lebih cepat dari biasanya dan dengan perasaan yang tidak menentu. Entah karena peristiwa itu tadi atau karena tiba lebih cepat dari biasanya.Tapi yang penting, saya sudah tiba dengan selamat dan inilah yang langsung dengan segera saya laporkan kepada yang berwajib dalam hal ini kedua orang tua.

Begitulah sedikit cerita perjalanan menuju tempat kerja yang sudah hampir dua bulan ini saya jalani. Bahkan bukan hanya sekali ini saja tontonan tragis yang gratis seperti ini disaksikan. Semua itu mungkin sebagai teguran untuk saya agar lebih berhati-hati dan sadar bahwa ajal mungkin saja datang ditempat yang tidak saya duga sebelumnya. Dan tentu saja untuk menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Amien….

No comment »

Kasih Sayang

assalam…
14 Februari katanya hari valentine,hari kasih sayang…
walaupun cuma tradisi,ritual tiap tahun
dan walopun katanya kasih sayang itu tak perlu
hari khusus untuk dirayakan soalnya tiap hari pun
klo kita sayang sm seseorang,ya pastinya tiap hari
kita saling berkasih-sayang…tp tetap aja..
masih banyak orang yg ingin menjalani ritual ini

tapi sebelum hari valentine kemarin,
saya dikirimi sms yang membuat saya semakin menyadari
bahwa saya sangat menyayangi dan tentu saja
sangat disayangi olehnya…[^,^]

"Aku menyayangimu,

aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu,
aku ingin anak-anak kita nantinya
bercerita tentang cerita cinta kita,
aku ingin ketika kita tua nanti
kita tertawa kecil diteras mengingat masa muda
aku ingin ketika sekarat nanti
kamu berada disampingku dan membisikkan
‘katakan sayang,Tiada Tuhan Selain Allah dan
Muhamad utusanNya,salam atasmu dan keluargamu

Aku Menyayangimu"

and all i can say is just, i love you

Comments (1) »

posting basi niyh…

assalamu alaikum…
waduh…sudah klamaan gak posting niyh..
bukannya sok sibuk gak punya waktu…
tapi emang gak punya duit buat online…(how pitty am i?)
ternyata teknologi itu memang mahal ya?hikz…

postingan ini sebenarnya untuk bulan lalu…
tp dasarnya memang malas digabungkan dengan tidak punya ongkos
menghasilkan karya diri tinggal dirumah hanya melakukan
aktivitas dasar manusia yaitu makan dan tidur…huahahaha…
agak2 malu sebenarnya buat posting ini,
tp drpd tinggal dlm komputer..beranak juga enggak..hehe

30-01-2008

Mantan
Pacar Indonesia (R.I.P: Soeharto 1921-2008)

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un. Telah berpulang ke
sisi-Nya seorang Jendral yang pernah memimpin negara kita, anak petani yang
menikahi putri seorang camat, seorang pemimpin yang pernah dikenal sebagai
Bapak Pembangunan Indonesia, yang di luar negeri dikenal sebagai Bapak Diktator
Indonesia, Bapak H.Soeharto atau yang akrab dipanggil Pak Harto. Ternyata,
setelah Pak Harto meninggal baru kita bisa tahu kalau beliau ini masih memiliki
tempat di hati rakyat  Indonesia setelah selama ini beliau selalu dihujat dan diminta pertanggungjawabannya atas
kehancuran negeri ini. Bisa kita lihat dari siaran di media, dengan ikutnya
mereka mengantar jenazah beliau menuju ke bandara,walau hanya se4 melambaikan
tangan saja,tapi setelah sejam berlalu iring2an mobil jenazah beliau tp
kebanyakan masyarakat msh tetap berada di pinggir jalan, entahlah apa yang ada
dipikiran mereka saat itu. Tapi yang jelas, yang saya pikirkan hanyalah
bagaimana kelanjutan tuntutan hukum terhadap beliau?jahat ya?!(^;^).

Entahlah,
bagaimana mestinya kita bersikap. Secara saya ini termasuk generasi yang tidak
terlalu menikmati bagaimana indanya era Pak Harto yang selalu diagung-agungkan
orang yang hidup dan tentu saja s4 menikmati masa itu. Tapi mengingat bagaimana
keadaan sekarang, tentu saja tidak lepas dari campur tangan beliau. Walaupun
bukan hanya kesalahan beliau semata, tapi juga kroni2nya. Namun dengan keadaan
seperti ini, siapa yang harus dituntut?apa yang mesti dituntut?hukuman apa yang
pantas untuk dijalani dan siapa yang mesti menjalani?. Banyak yang berkata,
keturunannya yang pantas untuk bertanggung jwb, tapi apakah anak2nya melakukan
kesalahan yang sama dengan ayahnya?dan yang lebih penting lagi,pantaskah mereka
bertanggung jawab?

Dan ketika
sesorang telah tiada dalam hidup kita, kita bukan hanya mengingat hal2 yang buruk,
tapi juga sisi baik dari orang itu. Sama seperti mengingat mantan pacar, bukan
hanya keburukannya saja yang kita ingat. tentu saja ada hal2 manis yang telah
kita lakukan bersamanya. Kita tidak mungkin lupa jasa2 pak harto yang telah
membangun bangsa ini. Namun, apa sebenarnya yang dibangun oleh pak harto?
Kehancuran bangsa ini? Mungkin atas dasar inilah mengapa rakyat Indonesia
hendak putus dari beliau. Sama seperti ketika kita putus dari mantan pacar.
Keberadaannya bersama kita sudah tidak lagi bermakna. Tidak adanya rasa nyaman
dari masyarakat ketika dipimpin olehnya, sehingga hubungan apa yang bisa
dibangun dari itu? Dan apakah pacar yang sekarang sudah tepat untuk Indonesia? Apakah
sekarang saatnya kita mencari pacar baru untuk Indonesia? Seseorang dimana kita
merasa cocok dan nyaman bersamanya. Namun kriteria untuk seorang pacar tentulah
berbeda tiap orang, dan suara untuk memilih pacar bagi Indonesia bukanlah dari
perseorangan, bukan pula per kelompok. Maka dapatkah kita mendapatkan pacar
yang sesuai untuk Indonesia?

No comment »

semangat!!

Sudah lama niyh rasanya gak posting…jadi kangen nulis2 di dunia maya…hehehe…Well…soalnya akhir2 ini sibuk dengan pekerjaan..persiapan lebaran…(bukannya nyiapin baju baru tp nyiapin ketupat..hehehe).Pokoknya no time for posting deh…(duh sok sibuk kali ya…?!:p)

Ramadhan kemarin rasanya yang paling buruk selama hampir 24thn hidupku. Padahal mungkin ada yang lebih buruk,tapi rasanya kali ini yang paling merugi. Bolongnya sampe 10, soalnya dapet tamu bulanan sampe 2kali di awal dan akhir bulan.Jadi mikir susah bayarnya.

Jadilah selama seminggu ini berusaha merasa diri masih di bulan Ramadhan. Walaupun sulit, soalnya godaan ditempat kerja sangat besar. Para rekan kerja memang hobinya ngemil…hmph…tp tetap harus SMANGAT!!! hehehe…

No comment »

Merdeka…!!!

Kemerdekaan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.Bagi suatu bangsa,merdeka itu tentu saja bebas dari tekanan penjajah.Penjajah disini bukan hanya memiliki arti bangsa asing yang ingin menduduki bangsa kita. Tetapi juga orang-orang dari bangsa kita sendiri yang menekan sesama bangsanya, menggunakan kekuatan serta kekuasaannya untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Makanya orang-orang idealis sepertinya tidak pernah berhenti berjuang walaupun dikata sekarang sudah era reformasi,pembaharuan telah terjadi, namun penindasan tetap saja terjadi.Menurutmu?

Bagiku, merdeka itu berarti bebas untuk bangun tidur jam berapapun yang diinginkan.Tanpa terikat rutinitas harian yang membuat raga menolak segala pikiran yang mengharuskan diri untuk bangun.Akhirnya kemarin setelah shalat shubuh, akhirnya tertidur kembali dan terbangun pukul 9.00 pagi rasanya ingin sekali berteriak "merdeka"!!!!.Namun pengertian kemerdekaanku ini belum tentu sama dengan orang lain.Ada yang mengartikannya dengan bebas melakukan apa saja yang dia inginkan, yang dia mau. Bebas untuk menyatakan perasaannya terhadap orang yang dicintai. Bebas untuk menyuarakan serta memperjuangkan hak-haknya. Bebas untuk berteriak "merdeka atau mati!!!" hahaha…’45 banget kayaknya… .

Bagaimana merdeka dalam pandanganmu?(^-^)

Comments (2) »

Kehilangan Kata

Entah kenapa akhir-akhir ini semakin sulit untuk mencari kata

mungkin kata yang kucari telah hilang

ditelan ombak yang membawanya kedasar lautan

mungkin pula kata itu telah pergi

terbawa angin yang melintas tanpa kusadari

atau mungkin pula kata itu masih disini,

menemani diri sampai waktunya tiba untuk menyatakan

Entah apa yang ingin dinyatakan

apakah sebuah rasa penyesalan walaupun tak ingin disesali

ataukah sebuah rasa syukur atas hal-hal yang telah terjadi

mungkinkah diri mampu mengungkap segalanya

tak mungkin kebenaran akan terbuka dengan sendirinya

seperti matahari yang sudah pasti merona di ufuk timur

pagi hari dan tetap memperlihatkan semburatnya

di ufuk barat senja untuk tenggelam

dan muncul kembali keesokan paginya

Hanya pujian dan harapan yang mampu kupanjatkan

kepadaMu wahai pemilik segala pujian

dan penampung segala asa…

Comments (1) »

gelapnya malam takkan mampu memejamkan mata,

imajiku terus menjelajah setiap ruang dihatimu

yang sesak dengan gambar dan sentuhan belaianku,

mampukah kau berjalan mejauhi kekasihmu?

                      written by paq 17/07/2007 03.01.22 a.m.

No comment »