Jepon Culture
Sejak tinggal di bumi butta turatea walaupun hanya 5hari
4malam dalam seminggu, cukup banyak kebiasaan masyarakat setempat yang bisa
ditangkap. Seperti misalnya kebiasaan mereka untuk mengiyakan permintaan
seseorang dengan kata iye’ karaeng. Padahal menurut kami pendatang kata karaeng
ini sangat tinggi tingkatannya dan hanya disebutkan untuk kalangan bangsawan
saja. Tapi di jeneponto tidak seperti itu. Bahkan kita saja yang notabene bukan
penduduk asli, yang hanya naik becak ke kantor, juga dipanggil
seperti itu. “Deng, ke jalan pahlawan nah,2ribu mo” dan langsung dijawab ‘iye’
karaeng’. Awalnya kata-kata ini sangat aneh ditelinga kami soalnya kami
bangsawan juga bukan, apalagi suku kami bugis, kenapa bisa dipanggil karaeng?.Didaerah bugis saja, hanya orang-orang tertentu yang dipanggil puang, itupun
hanya kalangan bangsawan saja. Tapi setelah mengetahui kalau itu hanya adat mereka
untuk menghormati orang lain,akhirnya kami terbiasa juga, bahkan menggunakannya
pula dalam keseharian, tentu saja dengan alasan yang sama, untuk menghormati
orang di daerah tersebut.
Ada lagi satu adat
yang sangat aneh menurut saya, dan sepertinya tidak patut untuk dibawa dalam
keseharian kita. Kalau tadi adat menghormati orang lain, yang ini sebaliknya. Dalam
keluarga yang kami tumpangi untuk tinggal selama kurang lebih 3 bulan terakhir
ini, anaknya memanggil orang tua mereka dengan sebutan pa’daengannya. Dengan santainya
dia memanggil ibunya dengan sebutan daengnya, bukan dengan panggilan seorang
anak kepada ibunya, mama, ma, bu, mak, tapi daeng. Belum lagi cara memanggilnya dengan teriakan yang tidak mungkin tetangga tidak mendengar,
apalagi kami yang berada didalam rumah. Bukan kebiasaan yang bagus untuk
diikuti. Sangat tidak pantas rasanya
seorang anak berlaku seperti itu kepada ibunya. Tapi memang seperti itulah kebiasaan mereka. Bahkan
ibunya juga pasrah saja dipanggil seperti itu. Sedih sekali rasanya melihat
anaknya berlaku seperti itu. Apalagi dia anak satu-satunya di keluarga
tersebut. Sepertinya tidak ada kesopanan yang berlaku dalam rumah. Hal ini juga
berlaku untuk panggilan kepada bapaknya. Sangat aneh menurut saya. Dan untuk keponakan, mereka memanggil bukan dengan tante, tapi langsung nama pa’daengangnya,
tanpa embel2 daeng. Misalnya namanya daeng kebo, ponakannya hanya memanggil kebo
saja, tanpa daeng. Aneh bukan?.
Tapi memang seperti
itulah kebiasaan atau mungkin lebih tepatnya budaya mereka. Tidak mungkin
dirubah begitu saja dengan adanya pendatang yang dalam seminggu hanya 4malam
tinggal disana. Kebiasaan yang baik mungkin bisa diikuti tapi kalau jelek ya
ngapain juga diterapkan dalam kehidupan
kita? Untuk orang asli sana yang
kebetulan membaca ini sebelumnya saya minta maaf jika ada yang merasa
tersinggung. Bukan maksud saya untuk mendiskreditkan budaya disana, hanya
sebagai bahan informasi bagi teman-teman saja. Semoga bermanfaat….hehehe
uchi said,
July 26, 2008 @ 6:44 pm
ya…begitulah tradisi di jepon karaeng…hehehe…”aneh tapi nyata”