Archive for September, 2008

The Hardest Ramadhan Ever

Bulan puasa kali ini sepertinya yg paling berat rasanya selama hidupku. Hidup jauh dari rumah dan harus merasakan sahur dan berbuka dirumah orang lain sama sekali tidak menyenangkan. Ego betul-betul diredam. Yang tadinya kalau menu sahur dan berbuka itu gampang diatur dengan orang rumah, kalau disana so pasti ikutan orang rumah sana masaknya apa. Secara kita ini cuma numpang. Belum lagi keinginan kita saat sahur, berbuka, shalat tarwih itu maunya bersama keluarga, akhirnya dijalani sendiri. Dan mungkin saking shocknya perasaan berdampak pada fisik. Pada hari kedua puasa yang biasanya kita lagi kuat-kuatnya, saya malah drop. Pekerjaan tak henti-hentinya yang tidak sebanding dengan kondisi fisik, membuat body n perasaan jadi tdk keruan. Demam bikin emosi menjadi-jadi, bahkan sampe rumah sempat nangis tapi langsung menguatkan hati kalau sekarang lagi puasa. Namanya juga bulannya ujian. Ibaratnya kalau kita ingin naik kelas,ya harus ujian dulu. Mungkin dalam setiap berlalunya tahun dalam hidup kita, Allah SWT ingin menguji kita. Bukan namanya orang yang bertakwa kalau tidak diuji oleh Allah SWT. Hal-hal yang dihalalkan saja menjadi haram disiang hari, apalagi yang haram. Saya cuma ingin menyemangati teman-teman di bulan puasa ini. Cobaan ini mungkin bukan apa-apa dibandingkan cobaan teman-teman yang lain. Semoga kita semua bisa melalui Ramadhan kali ini dengan lebih mensyukuri nikmat yang ada dan tetap semangat. Semoga kita semua bisa menadi fitrah kembali dihari yang fitri nanti.

Amin Ya Rabbal Alamien…

No comment »

Another 17an Story

Seingatku terakhir ikut upacara 17an itu waktu masih jaman sma dulu. Mungkin skitar 8thn yang lalu. Dan seingatku gak ada sekali niatan dalam diri untuk ikut khidmat dalam upacara bendera seperti ini. Sangat jelas akan minimnya nasionalisme dikalangan remaja ya…Soalnya sangat tidak logis harus melakukan penghormatan selama sekitar 5mnt kepada suatu benda mati yang berkibar oleh terpaan angin walaupun maknanya mungkin sangat besar bagi bangsa kita. Yang ada di pikiran hanya bagaimana berada dibarisan paling belakang agar tidak terkena sinar matahari dan bisa bergaya bebas(maksudnya tidak dalam posisi siap oleh inspektur upacara)…he3. Dan tidak pernah terbayang akan mengikuti hal semacam ini lg dimasa yg akan datang. Nyatanya pada saat kerja kita jg diharuskan untuk ikut upacara spt ini. Padahal di kantor sebelumnya tidak pernah ada sejarahnya dilakukan hal spt ini padahal sama2 perusahaan swasta.

Terus terang pemikiranku masih sama dengan 8tahun yang lalu soal upacara ini. Bahkan berniat untuk tidak ikut. Setelah briefing pagi hari itu, yang menginformasikan akan wajibnya upacara kali ini dengan ancaman absensi akan dikirim ke kantor pusat, mau tidak mau harus datang. Sepatah kata dari pimpinan juga sedikit menginspirasi kita untuk datang. Beliau mengatakan, kita disuruh upacara saja susah. Padahal jaman dulu orang harus berjuang sampe mati hanya untuk mengibarkan bendera. Jadi sedikit terobati penyakit kemalasannya untuk upacara. Yang bikin malesnya karena tgl17 itu bertepatan dengan hari minggu. Padahal hari jumatnya baru pulang ke makassar. Baru istirahat sehari harus balik lagi kesana. Tapi karena mikir cuma 2jam perjalanan dan paling lama hanya 30mnt upacaranya jadi berbesar hatilah kami kesana.

Pada tgl 17nya, setelah shalat subuh langsung berangkat tanpa ada babibu. Dengan mata masih berat dan hati masih tdk karuan akhirnya setengah perjalanan sudah terlewati. Sekitar 40mnt lagi sampai ditujuan, ternyata hujan turun dengan derasnya. Kami bukannya sedih malah senang mengingat kemungkinan besar upacara tidak jadi. Tapi rasanya perjalanan jadi sia-sia jauh2 hanya untuk upacara tapi kalau hujan otomatis upacara menjadi tidak wajib. Sampai dikantor ternyata hujan mereda. Para petugas upacara sedang bersiap-siap dengan tugasnya masing-masing. Kami para karyawan juga akan menyiapkan diri di barisan masing-masing juga. Inspektur upacara sudah mengistirahatkan peserta upacara. Pasukan penggerek bendera sedang latihan baris berbaris menuju tiang bendera. Belum juga upacara mulai ternyata hujan turun dengan derasnya. Barisan peserta upacara tanpa instruksi langsung kocar-kacir mencari tempat berteduh. Dengan sabar kami menunggu redanya hujan tapi dengan harapan upacaranya hanya dilanjutkan oleh penggerek bendera saja. Tapi 30mnt kemudian hujan mereda. Kami diinstruksikan untuk kembali ke barisan. Dan upacara pun dimulai. Dibandingkan dengan 8thn lalu diSma, upacara kali ini cukup khidmat. Nyanyian lagu Indonesia Raya dan Hening Cipta diiringi dengan rintik hujan dan angin dingin di pagi hari cukup membuat bulu kuduk merinding. Setelah pidato dari pimpinan dan doa selesai dibacakan, akhirnya upacara selesai.

Upacaranya hanya memakan waktu sekitar 45mnt. Ternyata tidak seberat yang dibayangkan sebelumnya. Seandainya kita mau meluangkan sedikit saja waktu kita untuk menghormati jasa para pahlawan kita dahulu, saya rasa itu tidak sulit untuk dilakukan.

No comment »